Mengapa Saya Ingin Melanjutkan Pendidikan Pascasarjana
Catatan perjalanan dan refleksi studi: mengapa seorang praktisi teknologi yang sudah punya bisnis stabil masih ingin melanjutkan kuliah pascasarjana.
Sore itu saya duduk di teras rumah sambil menunggu deploy selesai berjalan di server. Waktu senggang seperti ini biasanya saya habiskan untuk scroll media sosial, tapi entah kenapa pikiran saya melayang ke satu pertanyaan yang sudah lama mengendap: kenapa saya, yang sudah punya bisnis digital agency, klien yang cukup stabil, dan portofolio yang terus berkembang, masih ingin repot-repot melanjutkan kuliah pascasarjana?
Pertanyaan itu muncul lagi setelah saya menghadiri sebuah kajian akademik yang membahas integrasi teknologi dan pendidikan Islam beberapa waktu lalu. Saya duduk di antara para akademisi bergelar magister dan doktor, mendengarkan mereka membahas riset dengan kerangka metodologi yang rapi, sitasi yang kuat, dan argumentasi yang runtut. Saya merasa punya banyak pengalaman praktis untuk dibagikan, tapi saya sadar ada kekosongan dalam cara saya menyusun gagasan secara akademik.
Perjalanan yang membentuk keresahan ini
Selama membangun Santri360 dan mendampingi berbagai pesantren, saya banyak belajar dari pengalaman langsung di lapangan. Saya paham bagaimana pesantren bekerja, apa yang dibutuhkan kiai, bagaimana pola pikir wali santri, dan bagaimana teknologi bisa diadaptasi ke dalam ekosistem yang sangat berbeda dari sekolah formal. Namun ketika saya mencoba menuliskan pengalaman ini menjadi sesuatu yang lebih terstruktur, saya merasa kesulitan menyusunnya dalam kerangka berpikir yang lebih ilmiah dan bisa dipertanggungjawabkan secara akademik.
Saya menyadari bahwa pengalaman praktis dan kerangka akademik adalah dua hal yang saling melengkapi, bukan saling menggantikan. Pengalaman memberi saya bahan mentah yang kaya, tetapi tanpa metodologi yang tepat, bahan mentah itu sulit diolah menjadi sesuatu yang bisa memberi kontribusi lebih luas—baik untuk dunia pesantren, dunia pendidikan Islam, maupun dunia teknologi itu sendiri.
Tiga alasan yang menguatkan niat ini
Pertama, saya ingin memahami metodologi riset yang lebih dalam. Selama ini saya banyak membaca jurnal dan paper tentang integrasi AI dalam pendidikan Islam, tetapi saya sering merasa seperti penonton yang hanya bisa mengamati dari luar, bukan peserta yang bisa ikut berkontribusi menyusun penelitian sendiri.
Kedua, saya ingin menjembatani dunia praktisi teknologi dengan dunia akademik keislaman. Banyak akademisi yang memahami teori pendidikan Islam secara mendalam, tetapi belum banyak yang memahami sisi teknis pengembangan sistem digital. Sebaliknya, banyak praktisi teknologi yang paham coding dan infrastruktur, tetapi tidak memahami kerangka akademik keislaman secara memadai. Saya merasa berada di posisi yang unik untuk menjembatani dua dunia ini.
Ketiga, saya ingin meninggalkan sesuatu yang lebih permanen daripada sekadar produk digital. Aplikasi dan sistem yang saya bangun bisa saja tergantikan oleh teknologi yang lebih baru beberapa tahun ke depan. Tetapi pemikiran, riset, dan tulisan akademik yang tersusun dengan baik punya potensi untuk bertahan lebih lama dan memberi manfaat kepada orang lain yang menghadapi persoalan serupa di masa depan.
Keraguan yang masih tersisa
Saya tidak menutup mata bahwa melanjutkan pascasarjana bukan perkara sederhana. Waktu untuk mengelola bisnis, menangani klien, dan menjaga server yang sudah menyita banyak energi harus dibagi lagi dengan kuliah, membaca literatur, dan menyusun tesis. Ada rasa ragu, apakah saya sanggup menjalani semuanya sekaligus tanpa mengorbankan kualitas salah satunya.
Namun saya teringat satu prinsip yang sering saya pegang dalam dunia teknologi: sistem yang baik dibangun bertahap, bukan sekaligus. Mungkin pendidikan pascasarjana pun perlu didekati dengan cara yang sama—bukan sebagai beban yang harus diselesaikan secepat mungkin, tetapi sebagai proses panjang yang dijalani dengan konsisten, sedikit demi sedikit, sejalan dengan ritme hidup yang sudah saya jalani sebagai pengembang dan pengusaha.
Penutup
Menutup catatan sore itu, deploy di server akhirnya selesai tanpa error. Saya tersenyum kecil. Kalau sistem digital bisa terus diperbaiki dan ditingkatkan melalui iterasi kecil yang konsisten, mungkin begitu juga dengan diri saya sendiri—perlu terus di-upgrade, salah satunya lewat jenjang pendidikan yang lebih tinggi.